Sabtu, 18 April 2015

A.    Karangan ilmiah
Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Tujuan karya ilmiah: agar gagasan penulis karya ilmiah itu dapat dipelajari, lalu didukung atau ditolak oleh pembaca.

Fungsi karya ilmiah: sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

1. Penjelasan (explanation)
2. Ramalan (prediction)
3. Kontrol (control)

Hakikat karya ilmiah: mengemukakan kebenaran melalui metodenya yang sistematis, metodologis, dan konsisten.

Syarat menulis karya ilmiah :

1. motivasi dan displin yang tinggi
2. kemampuan mengolah data
3. kemampuan berfikir logis (urut) dan terpadu (sistematis)
4. kemampuan berbahasa

Sifat karya ilmiah formal harus memenuhi syarat:

1. Lugas dan tidak emosional
Mempunyai satu arti, sehingga tidak ada tafsiran sendiri-sendiri (interprestasi yang lain).

2. Logis
Disusun berdasarkan urutan yang konsisten

3. Efektif
Satu kebulatan pikiran, ada penekanan dan pengembagan.

4. Efisien
Hanya mempergunakan kata atau kalimat yang penting dan mudah dipahami

5. Ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku.

Jenis-jenis karya ilmiah

karya ilmiah di perguruan tinggi, menurut Arifin (2003), dibedakan menjadi:

1. Makalah, adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. makalah menyajikan masalah dengan melalui proses berpikir deduktif atau induktif.

2. Kertas kerja, seperti halnya makalah, adalah juga karya tulis ilmiah yang menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih mendalam daripada analisis dalam makalah.

3. Skripsi, adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik bedasarkan penelitian langsung (obsevasi lapangan, atau percobaan di laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa temuan baru dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu aspek atau lebih di bidang spesialisasinya.

4. Tesis, adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri.

5. Disertasi, adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci). Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal. Jika temuan orisinal ini dapat dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan penguji, penulisnya berhak menyandang gelar doktor (S3).

Manfaat Penyusunan karya ilmiah

Menurut sikumbang (1981), sekurang-kurangnya ada enam manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut :

1. Penulis dapat terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena sebelum menulis karya ilmiah, ia mesti membaca dahulu kepustakaan yang ada relevansinya dengan topik yang hendak dibahas.

2. Penulis dapat terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber, mengambil sarinya, dan mengembangkannya ke tingkat pemikiran yang lebih matang.

3. Penulis dapat berkenalan dengan kegiatan perpustakaan seperti mencari bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku.

4. Penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasi dan menyajikan data dan fakta secara jelas dan sistematis.

5. Penulis dapat memperoleh kepuasan intelektual.

6. Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.

B.     Karangan Non Ilmiah (Fiksi)
Adalah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.

Ciri-ciri karangan Non Ilmiah :
1. Ditulis berdasarkan fakta pribad
2. Fakta yang disimpulkan subyektif
3. Gaya bahasa konotatif dan popular
4.  Tidak memuat hipotesis
5. Penyajian dibarengi dengan sejarah
6.  Bersifat imajinatif
7. Situasi didramatisir, dan
8. Bersifat persuasif.

C.    Metode Ilmiah
Metode Ilmiah merupakan langkah atau tahap yang teratur dan sistematis yang digunakan dalam memecahkan suatu masalah ilmiah. Metode tersebut berawal dari adanya permasalahan yang diperoleh dari pengamatan terhadap gejala-gejala (fenomena) yang terjadi pada suatu objek pengamatan, misalnya terjadi perkaratan besi. Metode ilmiah mencakup enam langkah berikut ini :
1.      Merumuskan Masalah
Yang akan diteliti dan dipecahkan tentunya berawal dari sebuah masalah. Masalah biasanya berupa pertanyaan ilmiah yang harus dijawab dengan melakukan sebuah percobaan dan penelitian secara ilmiah. Dengan merumuskan masalah, anda telah memahami hal yang akan diteliti dengan langkah metode ilmiah.

2.      Menyusun Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya, jadi dalam langkah kedua ini anda diperlukan untuk membuat dugaan tentang jawaban dari masalah anda sendiri berdasarkan bukti-bukti dan fakta-fakta yang ada. Selanjutnya benar atau tidaknya hipotesa anda harus dibuktikan dengan serangkaian percobaan atau penelitian.
3.      Melaksanakan Penelitian Ilmiah
Setelah anda menyusun hipotesis mengenai masalah yang akan anda pecahkan, selanjutnya anda bisa memulai penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran dari hipotesa anda. Dalam penelitian anda bisa melaksanakan di laboratorium dengan pedoman keselamatan di ruang laboratorium, namun hal tersebut bergantung pada masalah apa yang akan di pecahkan bila di luar maka diluar laboratorium dengan mengetahui pedoman tersebut.

4.      Mengumpulkan Data dari Hasil Penelitian
Saat penelitian dilaksanakan, anda harus mengamati dengan seksama kemudian setelah itu anda harus mengumpulkan data-data tersebut sebagai data penelitian dan harus disusun dengan baik, dengan begitu data yang anda dapatkan akurat.

Data yang didapatkan bisa data yang berupa angka (Kuantitatif) atau data yang berupa pengamatan indera tanpa satuan ukur.

Dalam suatu eksperimen di kenal adanya variabel dan pembanding, variabel merupakan faktor yang mempengaruhi percobaan, sedangkan pembanding adalah suatu perangkat percobaan. Berikut variabel yang terdapat 4 macam:

o  Variabel Kontrol, merupakan faktor yang dibuat sama
o  Variabel Bebas, merupakan faktor yang sengaja diubah
o  Variabel Terikat, merupakan faktor yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan variabel kontrol.
o  Variabel Pengganggu, merupakan faktor yang dapat mempengaruhi hasil percobaan.
Data yang anda kumpulkan tadi, selanjutnya bisa disusun dalam bentuk uraian (diskripsi), tabel, maupun grafik

5.      Mengolah dan Menganalisis Data
Kelompokkanlah data yang tadi anda kumpulkan dari hasil penelitian atau percobaan, kemudian susun sesuai dengan jenis atau keperluan penelitian. Analisalah data-data tersebut dan selanjutnya, anda bisa mengecek apakah hipotesa yang anda buat tadi sesuai atau malah bertentangan dengan hasil yang telah didapat. Apabila hipotesis yang anda buat tadi bersesuaian dengan hasil pengamatan, maka hipotesis diterima, apabila tidak maka sebaliknya, hipotesis ditolak. Jika hipotesis anda ditolak, maka belum tentu anda gagal. Akan tetapi ada masalah yang belum dapat terjawab dari percobaan yang anda lakukan. Oleh karenanya perlu dilakukan penelitian ulang dengan cara memperbaiki hipotesis.

6.      Membuat KesimpulanKesimpulan meruoakan pernyataan yang merangkum apa yang sudah anda lakukan selama kegiatan penelitian. Hasil penelitian perlu dibahas apakah mendukung hipotesis yang semuloa anda buat sesuai atau tidak.

D.    Aspek pendekatan dalam karangan ilmiah
1.      Pendekatan Pembelajaran
Untuk menyelesaikan suatu persoalan pokok dalam memilih teknik belajar-mengajar diperlukan suatu pendekatan tertentu. Pendekatan itu merupakan titik tolak atau sudut pandangan kita memandang seluruh masalah yang adadalam program belajar-mengajar. Salah satu sagi yang sering disoroti orang dalam pengajaran bahasa, termasuk bahasa Indonesia adalah pendekatan yang digunakan oleh pengajar bahasa yang berpengaruh pada pemilihan metode dan strategi atau teknik pengajarannya.
Edward Anthony, seorang ahli lingusitik terapan dari amerika,mengidentifikasi perbedaan antara pendekatan,metode dan teknik.pendekatan adalah serangkaian asumi yang bersifat aksiomatistentang sifat dan hakikat bahasa,pengajaran bahasa serta belajar bahasa.metode adalah rencana teraturdan didasarkan atas suatupendekatan yan dipilih.apabila pendekatan bersifat aksiomatis maka metode bersifat prosedural. Teknik bersifat implementasional, yaitu apa yang sebenarnya terjadi di kelas untuk mencapai tujuan khusus. Teknik harus selaras dengan metode dan metode tidak boleh bertentangan dengan pendekatan. Dengan kata lian, ketiganya mempunyai hubungan yang hirarkis, teknik adalah penjabaran dari suatu metode, dan metode adalah penjabaran dari suatu pendekatan.
Sejalan dengan hal itu, maka pendekatan erat hubungannya dengan aspek-aspek teoretis atau seperangkat anggapan yang mendasari suatu metode sedangkan metode menginterpretasi tujuan, teknik dan prosedur mengajar di kelas.
a.      Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan selama ini lebih berorientasi pada target. Pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi penguasaan materi itu tetap dijalankan. Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang diajarkan dengan situasi dunia nayata siswa dan mendorong siswa membantu hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep pembelajaran seperti itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kesiswa.
Menurut Priyatni, pembelajaran kontekstual memilki beberapa karakteristik yaitu:
(1)   Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang otentik, artinya pembelajaran diarahkan agar peserta didik memilki keteampilan dalam memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting);
(2)   Pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan tugas yang makna (meaningful learning);
(3)   Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik (learning by doing);
(4)   Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group);
(5)   Kebersamaan, kerja sama, dan saling memahami satu dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to know other deeply);
(6)   Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inguiry, to work togerher);
(7)   Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyanangkan (learning as an enjoy activity).
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivitas (constructivism), bertanya (guestioning), menemukan (inguiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
b.      Pendekatan Pembelajaran Konvensional
             Pendekatan pembelajaran konvensional sering disebut juga dengan pendekatan tradisional, persial, struktural atau gramatikal, menurut Busching dan Lundsteen, pendekatan pembelajaran konvensional merupakan pendekatan pembelajaran masa silam yang memandang bahwa setiap pembelajran dipandang sebagai suatu disiplin ilmu. Pada pendidikan dasar membaca, menulis, aritmatik,geografi dan sejarah diajarkan secara terpisah-pisah.
            Pendekatan pembelajaran konvensional menitik beratkan pada perkembangan intelektual melalui cara belajar ingatan mengenai hal-hal yang telah dibaca dan tugas-tugasyang telah dikerjakan. Perencanaan belajar dan perkembangan aspek-aspek keterampilan, sosial, sikap, dan apresiasi kurang mendapat perhatian. Masalah disiplin, guru lebih banyak memberikan hukuman dan paksaan, khususnya yang bersifat hukuman fisik, serta bertindak secara otoriter.

            Inti pembelajaran konvensional merurut Fogarty ialah pemisahan antara satu bidang studi dan bidang studi lain (atau mata kuliah jika pada perguruan tinggi). Pembelajaran ini merupakan pembelajaran terpisah-pisah sebagai cara-cara tradisional dalam merancang kurikulum dan bahan pembelajaran. Pembelajaran konvensional dalam bahasa ialah pembelajaran yang memandang bahasa sebagai suatu kompleksitas yang dapat dipecah-pecah seperti fonem, morfem, dan seterusnya. Oleh karena itu  bahasa dianggap seperti itu, maka pelajaranan juga diberikan secara terpisah-pisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar