Selasa, 15 Januari 2013

softskill


Pengertian
Caci atau tari Caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari yang bersenjatakan cambuk bertindak sebagai penyerang dan yang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai. Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen dan ritual tahun baru, upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, dipentaskan untuk menyambut tamu penting.
Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Laki-laki yang berperan sebagai penangkis, menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai dan busur dari bambu rotan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis. Kalau pecutan tidak dapat ditangkis, pemain akan menderita luka. Jika mata terkena cambukan, maka pemain itu langsung dinyatakan kalah, dan kedua pemain segera diganti.
Pertarungan dengan diiringi bunyi gendang dan gong, serta nyanyian para pendukung. Ketika wakil kelompok bertanding, anggota kelompok lainnya memberi dukungan sambil menari-nari. Tempurung kelapa dipakai sebagai tempat minum tuak yang dipercaya dapat menggandakan kekuatan para pemain dan penonton. Seperti layaknya pertandingan bela diri, sebagian penonton ada mendukung penyerang, sementara sebagian lagi mendukung pemain bertahan. Anggota kelompok atau penonton bersorak-sorak memberi dukungan agar cambuk dilecutkan lebih kuat lagi.
Kostum dan simbolisme
Pemain bertelanjang dada, namun menggunakan baju perang pelindung paha dan betis berupa celana panjang warna putih dan sarung (songket khas Manggarai). Kain songket berwarna hitam diikatkan di pinggang sampai lutut untuk menutupi sebagian dari celana panjang. Di pinggang belakang dipasang giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan pemain.
Topeng atau hiasan kepala dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang berbentuk tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan. Seluruh kulit tubuh pemain adalah sah sebagai sasaran cambukan, kecuali bagian tubuh dari pinggang ke bawah yang ditandai kain. Kulit bagian dada, punggung, dan lengan yang terbuka adalah sasaran cambuk. Caci juga merupakan pembuktian kekuatan seorang laki-laki Manggarai. luka-luka akibat cambukan dikagumi sebagai lambang kemenangan.
Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, dan kejantanan pria. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dipecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai. Bagi orang Kabupaten Manggarai, caci merupakan pesta besar. Desa penyelenggara memotong beberapa ekor kerbau untuk makanan para peserta dan penonton.
                                          

Di belahan Nusa Tenggara Timur tarian perang yang mengedepankan unsur-unsur di atas muncul dalam berbagai bentuk dan ragam. Namun pada kesempatan ini saya hanya menampilkan beberapa foto yang menunjukkan keelokan tarian perang yang bernama Caci dari Manggarai Raya. Dari gambar-gambar ini pembaca bisa menafsirkannya sendiri sesungguhnya seperti apa budaya itu diwariskan dan dihargai.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar